“Kakus ini saya buat dengan biaya sendiri,” jelas Sabaria, dalam bahasa lokal, dengan bangga.
Sebelum punya kakus sendiri, Sabaria dan banyak warga lainnya di desa tersebut cukup lari ke semak-semak belakang rumah jika ingin buang hajat. Sebagian lainnya memilih sungai sebagai ‘kakus alami’ mereka. Kebiasaan yang tak sehat ini, tak pelak, mengundang banyak penyakit yang sering menyerang warga desa. Sebut saja, misalnya, penyakit diare.
Kondisi itulah yang ditemui Palang Merah Indonesia, yang bekerja sama dengan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau IFRC (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies) membuka program penyediaan airs bersih dan sanitasi atau watsan (water and sanitation) di Nias pasca gempa 2005 di Lahewa dan Mandrehe, Nias. Palang Merah membangun puluhan MCK berikut septik tank, keran air dan pemipaan, serta penampungan air sumber dan air hujan.


